Friday, April 12, 2013

Sunday, July 22, 2012

Penyesalan ini ~,~


^^Terbangun dalam tidur singkatku,
terdengar alunan jam dinding di ruang tamu
seiring dengan detak jantungku
teringat saat itu , saat bersamanya di kegelapan malam ditemani sang bulan, melawan kerasnya kehidupan kota, dengan godaan gemerlapnya dunia.
Aku sontak tertampar dengan penyesalan masa lalu yang tiada ujung
Aku terdiam, ingin rasanya menangis tapi ku tak bisa
Ingin ku caci diri ini, tapi apalah daya
Yang kini bisa kulakukan hanyalah berusaha tuk menjadi pribadi yang lebih baik
Tanpa melakukan penyesalan-penyesalan yang lain, yang akan menambah daftar penyesalan di sisa hidupku ini.
Tapi apakah Tuhan masih bersedia menerima hamba yang penuh dosa ini?
Namun aku ingat salah satu lafal asma’ul husna bahwa “Allah Maha Pemaaf (Al-Ghoffar).”
Aku yakin semua bisa berubah menjadi lebih baik asalkan ada kemauan dan usaha.
Ya… itulah yang kini harus dilakukan.
tapi masih ada pertanyaan dalam diri ini.
dari mana aku harus memulai semua itu???? -__-'

Sunday, June 3, 2012

MAKALAH POLA ADAPTASI EKOLOGI


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

              Ekologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan hidupnya, baik yang bersifat hidup (biotik) maupun tidak hidup (abiotik). Hubungan yang terjalin antara keduanya menyebabkan adanya hubungan yang saling membutuhkan atau muncul suatu saling ketergantungan. Saling ketergantungan ini berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan. Dan akhirnya terbentuklah suatu kebudayaaan sebagai hasil dari interaksi antara keduanya. Lingkungan hidup itu sendiri merupakan suatu ruang dimana seluruh unsur-unsur yang bersifat tak hidup yang meliputi air, tanah, suhu, materi, dan energy, saling berinteraksi secara kompleks dengan semua yang hidup atau termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
              Boleh dikatakan makna penting yang terkandung dalam ekologi adalah “adaptasi terhadap lingkungan hidup”. Lingkungan hidup telah dipandang sebagai suatu jaringan kehidupan dimana di dalamnya terdapat interaksi antar makhluk hidup, sehingga setiap makhluk hidup di suatu wilayah pada hakekatnya harus mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Termasuk dalam hal ini manusia.
              Untuk mengetahui secara riil mengenai contoh pola adaptasi yang terjadi pada lingkungan serta bagaimana pola adaptasi yang dilakukan oleh masyarakatnya, maka dilaksanakanlah field trip oleh mahasiswa TPB-IPB kelas P07 di daerah Cibanteng, Bogor. Di sana ditemukan beberapa contoh pola adaptasi masyarakat, yang salah satunya yaitu adanya pemakaman pribadi di sekitar rumah pada setiap keluarga, padahal terdapat tempat pemakaman umum di desa tersebut. Tema tersebut yang akan dibahas pada makalah ini.

1.2    Permasalahan

       Masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
1.2.1Apa pengertian pola adaptasi ekologi ?
1.2.2Apa alasan kebanyakan masyarakat bogor mempunyai makam keluarga di sekitar rumahnya?
1.2.3Apa teori adaptasi ekologi yang sesuai dengan tradisi makam keluarga pada masyarakat Cibanteng-Bogor?
1.2.4Apakah lingkungan berpengaruh pada pola adaptasi masyarakat terhadap tempat makam?

1.3    Tujuan

       Tujuan dilaksanakannya field trip ini adalah :
1.3.1Mengetahui pengertian pola adaptasi ekologi.
1.3.2Mengetahui alasan kebanyakan masyarakat bogor mempunyai makam keluarga di sekitar rumahnya.
1.3.3Mengetahui teori adaptasi ekologi yang sesuai dengan tradisi makam keluarga pada masyarakat Cibanteng-Bogor.
1.3.4Mengetahui pengaruh lingkungan pada pola adaptasi masyarakat terhadap tempat makam.


BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pola Adaptasi Ekologi

              Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli Biologi dari jerman yaitu Ernest Haekel pada tahun 1866. Kata ekologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu Oekos berarti rumah dan logos berarti ilmu. Jadi, secara harfiah dapat diartikan sebagai  ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat diartikan sebagai ilmu tentang rumah tangga makhluk hidup. Sehingga pola adaptasi ekologi dapat diartikan sebagai kebisaan yang ada di lingkungan tempat tinggal masyarakat. Adaptasi ekologi berlangsung terus-menerus dan spesifik ruang dan waktu. Dalam pola adaptasi ekologi terdapat tiga teori yang menjelaskan tentang bagaimana sesungguhnya kebudayaan terbentuk, bertahan dan berkembang.
2.1.1Determinasi Lingkungan
       Teori ini muncul pada decade 1910an. Menurut Ellen C. Semple (1911), seluruh kebudayaan dan perilaku manusia pada dasarnya dipengaruhi langsung oleh faktor-faktor lingkungan yaitu iklim, topografi, sumber daya alam,dan geografi.
2.1.2Posibilisme Lingkungan
       Teori ini muncul sekitar tahun 1930an sebagai kritik atas pendekatan deterministik. Teori ini memandang bahwa pada dasarnya lingkungan bukanlah faktor penentu sebagaimana pada paham deterministic, melainkan hanya sebagai penapis, penyaring atau screen bagi terbentuknya unsur budaya tertentu (cultural traits). Menurut Arnold Toynbee (1947), respon masyarakat terhadap lingkungan alam menjadi penentu berkembang tidaknya peradaban di masyarakat bersangkutan. Contoh, masyarakat eskimo vs masyarakat tropis
2.1.3Ekologi Budaya
       Paham ini dipandang sebagai revisi dari paham posibilisme. Menurut Julian Steward (1968), Ekologi budaya adalah studi yang mempelajari bagaimana suatu masyarakat beradaptasi dengan lingkungannya. Adaptasi lingkungan hanya berlangsung di unsur budaya tertentu, yakni teknologi eksploitasi sumber daya alam, populasi penduduk, ekonomi dan organisasi sosial. Unsur-unsur budaya ini merupakan inti kebudayaan (cultural core).

2.2    Alasan Kebanyakan Masyarakat Cibanteng Mempunyai Makam Keluarga

       Cibanteng adalah daerah di wilayah Bogor yang penduduknya mayoritas masih kalangan menengah ke bawah. Penduduk di daerah Cibanteng tidak hanya dari local, namun banyak juga penduduk dari luar bogor. Mata pencaharian di daerah itu berbeda beda, ada pedagang dan banyak juga yang menjadi pemulung. Jalan untuk memasuki lokasi berupa gang-gang kecil. Rumahnya pun saling berdekatan. Namun di setiap halaman samping rumah atau belakang rumah terdapat makam-makam pribadi milik keluarga. Sebenarnya di daerah tersebut juga terdapat tempat pemakaman umum, namun mayoritas penduduk asli Cibanteng memilih untuk memakamkan keluarganya yang telah meninggal di makam keluarga yang berada di sekitar rumahnya.
       Setelah dilakukan wawancara pada saat field trip, diketahui bahwa tidak semua penduduk di daerah Cibanteng mempunyai makam keluarga, hanya penduduk asli lah yang rata-rata mempunyai makam keluarga. Banyak alasan mengapa mereka mempunyai makam keluarga antara lain karena makam tersebut sudah menjadi tradisi dari jaman dulu, alasan lain yaitu karena mereka memang mempunyai lahan di sekitar rumah untuk membuat makam, selain itu mereka juga beralasan agar makam keluarga mereka dekat sehingga mudah apabila ingin merawat atau sekedar membersihkan makam tersebut. Dengan adanya makam keluarga, mereka tidak mengeluarkan biaya seperti halnya di tempat pemakaman umum, sehingga mereka lebih memilih tempat makam keluarga daripada tempat pemakaman umum.

2.3    Teori Adaptasi Ekologi yang Sesuai dengan Tradisi Makam Keluarga

       Setelah dilakukan wawancara dengan salah satu warga desa Cibanteng tentang tradisi makam keluarga, dapat dianalisis bahwa tradisi makam keluarga termasuk dalam teori ekologi budaya. Hal ini termasuk dalam ekologi budaya karena pada dasarnya terdapat adaptasi masyarakat terhadap lingkungannya. Adanya pola dalam pemukiman, dimana penduduk asli mempunyai lahan untuk makam khusus keluarga pribadi namun pada masyarakat pendatang tidak demikian, mereka tidak mempunyai makam keluarga disebabkan karena para pendatang tidak mempunyai lahan sendiri, kebanyakan dari mereka hanya tinggal di kontrakan. Masyarakat yang demikian memakamkan keluarganya di tempak pemakaman umum.

2.4    Pengaruh Lingkungan pada Pola Adaptasi Masyarakat

       Lingkungan juga berpengaruh terhadap adaptasi masyarakat. Pada tradisi makam keluarga sebenarnya tidak selalu anggota keluarga dimakamkan di sekitar rumah, semua itu sesuai persetujuan keluarga. Selain itu apabila lahan tempat pemakaman keluarga telah penuh maka pemakaman dilakukan di tempat pemakaman umum. Namun hal itu jarang terjadi, karena kebanyakan penduduk asli Desa Cibanteng lebih memilih memakamkan keluarganya di makam keluarga. Alasannya karena di tempat pemakaman umum, makam-makam banyak yang tidak terurus, menyebabkan mereka lebih memilih di tempat makam keluarga yang lebih dekat, sehingga makam mudah untuk dirawat ataupun di bersihkan.































BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
       Pola adaptasi ekologi adalah kebiasaan yang ada di lingkungan tempat tinggal suatu masyarakat. Dari hasil field trip diketahui bahwa masyarakat Cibanteng mempunyai tradisi yaitu adanya makam keluarga di sekitar rumah mereka. Walaupun sebenarnya terdapat tempat pemakaman umum. Alasannya karena agar lebih dekat sehingga mudah merawat atau sekedar membersihkan makam, selain itu makam tersebut sudah menjadi tradisi mereka. Tradisi ini jika dikaitkan dengan teori ekologi yang berkembang termasuk dalam paham ekologi budaya. Hal ini karena masyarakat Cibanteng membentuk pola pemukiman, dimana tradisi makam keluarga tersebut hanya berlaku pada masyarakat asli bukan masyarakat pendatang yang mana pada masyarakat asli tradisi makam tersebut sudah ada sejak jaman dahulu dan mereka juga punya lahan, sedangkan pada masyarakat pendatang mereka tinggal di kontrakan dan tidak mempunyai lahan. Lingkungan juga berpengaruh terhadap adaptasi masyarakat, yang mana masyarakat lebih memilih memakamkan keluarga di tempat pemakaman keluarga di banding di tempat pemakaman umum, karena di tempat pemakaman umum letaknya agak jauh, dan kondisi pemakaman juga tidak terawat, sehingga mereka enggan memakamkan keluarganya di situ.
3.2 Saran
       Sebaiknya pengelolaan tempat pemakaman umum lebih di perhatikan, sehingga masyarakat tidak enggan memakamkan keluarganya di tempat pemakaman umum.

 
design by suckmylolly.com